| Hiposmia |
|
Berkurangnya kemampuan penghidu , masih dapat sedikit mencium bau-bauan. Penyebabnya dapat berupa obstruksi hidung, rinitis allergi, rinitis vasomotor, rinitis atrofi, hipertrofi konka, deviasi septum, sinus, polip, dan tumor.
Etiologi
Selain penyebab diatas ada penyebab lain yaitu: DM, Gagal ginjal, antihistamin, dekongestan, antibiotik, antimetabolit, antiperadangan, dan antitiroid.
Patogenesis
Secara garis besar hampir sama dengan anosmia, namun tergantung dari penyebabnya dan faktor predisposisinya. Gangguan penghidu terjadi bila ada yang menghalangi sampainya partikel bau ke reseptor syaraf atau ada kelainan pada N. Olfaktorius, mulai dari reseptor sampai pusat olfaktorius.
Gejala klinis
Secara garis besar hilangnya sensasi penciuman bersamaan dengan hilangnya sensasi pengecapan menyebabkan hilangnya nafsu makan. Adapun gejala-gejala tambahan tergantung penyebabnya dan faktor predisposisinya seperti ; Napas berbau busuk, mengeluarkan Ingus / sekret kental, hidung rasa tersumbat, kepala rasa sakit.
Pasien rinitis alergi sering mengeluh tidak dapat mencium bau tertentu (ada zona anosmik) sedangkan bau-bauan yang lain normal.
Diagnosis
Penatalaksanaan
Hiposmia hampir sama dengan anosmia tidak memerlukan pengobatan secara khusus, biasanya akan sembuh dengan sendirinya. Pada penderita polip nasi, tumor hidung, rinitis kronis spesifik (rinitis atrofi, sifilis, lepra, skleroma, tuberkulosis) menye babkan hiposmia akibat obstruksi, akan hilang jika faktor penyebabnya diobati.
Rinintis medikamentosa akibat pemakaian obat tetes hidung menyebabkan hiposmia atau anosmia, yang akan sembuh bila pemakaian obat-obatan penyebabnya dihentikan. Tumor N. Olfaktorius terapinya dengan pembedahan. Kecuali jika ada keluhan gejala sekunder yang menyertai, dapat diberikan antibiotik, antihistamin, dekongestan oral (anamnesa dengan teliti obat-obatan yang memperberat gejala).
|
| < Prev | Next > |
|---|
