Batuk merupakan refleks normal yang berfungsi untuk melindungi paru-paru dari aspirasi. Mekanisme batuk terdiri dari 3 fase yaitu fase inspirasi, fase kompresi dan fase ekspirasi. Penyebab batuk dapat berupa penyakit atau proses yang merangsang refleks batuk.Komplikasi batuk menurut ACCP Evidence-Based Clinical Practice Guidelines meliputi komplikasi kardiovaskuler, gastrointestinal, Genitourinary, musculoskleletal, neurological, opthalmologic, pyscosocial.
Mekanisme batuk Mekanisme batuk memilik tiga fase yaitu fase inspirasi, fase kompresi dan fase ekspirasi. Batuk bermula dari masuknya sejumlah udara lalu glotis akan menutup menyebabkan tekanan didalam paru akan meningkat yang pada akhirnya akan terjadi pembukaan glotis secara tiba-tiba dan eskpirasi sejumlah udara dengan kecepatan tertentu. Fase inspirasi dimulai dengan inspirasi singkat dan cepat dari sejumlah besar udara, pada saat ini glotis secara refleks sudah terbuka, udara yang diinpirasi bervariasi. Fase kompresi terjadi dimana glotis akan menutup selama 0,2 detik, pada fase ini tekanan paru dan abdomen meningkat sampai 50 – 100 mmHg. Tertutupnya glotis merupakan ciri khas batuk yang membedakannya dengan manuver ekpirasi paksa lain karena menghasilkan tenaga yang berbeda. Di pihak lain batuk juga dapat terjadi tanpa penutupan glotis. Fase ekpirasi dimulai dengan udara yang keluar dan menggetarkan jaringan saluran nafas sehingga menimbulkan suara batuk. PENYEBAB BATUK Beberapa penyebab batuk : · berbagai penyakit/proses yang merangsang reseptor batuk · iritan : rokok, asap SO2, Gas ditempat kerja · Mekanik : retensi sekret bronkopulmoner, benda asing dalam saluran pernafasan, postnasal dirp, aspirasi · Penyebab paru obstruktif : bronkotis kronik, astma, emfisema, fibrosis kistik bronkiektasis · Penyakit paru retristif : penumokniosis, penyakit kolagen, penyakit granulomatosa · Infeksi : laringitis akut, bronkitis akut, penumonia, pleuritis, perikarditis. · Tumor ; tumor laring, tumor paru · Psikogenik · Dan lain-lain Untuk mengetahui penyebab batuk perlu dilakukan anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik, dan mungkin juga pemeriksaan lain seperti laboratorium darah dan sputum, rontgen toraks, tes fungsi paru dan lain-lain Komplikasi batuk Complications of Cough ACCP Evidence-Based Clinical Practice Guidelines | Variables | Symptoms | | | | Cardiovascular | Arterial hypotension | | | Bradyarrhythmias and tachyarrhythmias | | | Dislodgement/malfunctioning of intravascular catheters | | | Loss of consciousness | | | Rupture of subconjunctival, nasal, and anal veins,625 and massive intraocular suprachoroidal hemorrhage during pars plana vitrectomy | | Constitutional symptoms | Excessive sweating, anorexia, exhaustion | | GI | Gastroesophageal reflux events | | | Gastric hemorrhage following percutaneous endoscopic gastrostomy29 | | | Hepatic cyst rupture | | | Herniations (eg, inguinal, through abdominal wall, small bowel through laparoscopic trocar site ) | | | Malfunction of gastrostomy button | | | Mallory-Weiss tear | | | Splenic rupture | | Genitourinary | Inversion of bladder through urethra | | | Urinary incontinence | | Musculoskeletal | From asymptomatic elevations of serum creatine phosphokinase to rupture of rectus abdominus muscles | | | Diaphragmatic rupture | | | Rib fractures | | | Sternal wound dehiscence | | Neurological | Acute cervical radiculopathy | | | Cerebral air embolism | | | Cerebral spinal fluid rhinorrhea | | | Cervical epidural hematoma associated with oral anticoagulation | | | Cough syncope | | | Dizziness | | | Headache | | | Malfunctioning ventriculoatrial shunts | | | Seizures | | | Stroke due to vertebral artery dissection | | Ophthalmologic | Spontaneous compressive orbital emphysema of rhinogenic origin | | | Others are listed under 'Cardiovascular' | | Psychosocial | Fear of serious disease | | | Lifestyle changes | | | Self-consciousness | | Quality of life | Decreased | | Respiratory | Exacerbation of asthma | | | Herniations of the lung (eg, intercostal and supraclavicular ) | | | Hydrothorax in peritoneal dialysis | | | Laryngeal trauma (eg, laryngeal edema and hoarseness ) | | | Pulmonary interstitial emphysema, with potential risk of pneumatosis intestinalis, pneumomediastinum, pneumoperitoneum, pneumoretroperitoneum, pneumothorax, subcutaneous emphysema | | | Tracheobronchial trauma (eg, bronchitis25 and bronchial rupture85) | | Skin | Petechiae and purpura86 | | | Disruption of surgical wounds25 | TERAPI BATUK Terapi batuk terutama ditujukan untuk penyebab dasarnya. Batuk produktif tidak boleh ditekan kecuali pada situasi khusus (misalnya, jika menyebabkan kelelahan pasien atau mengganggu tidur dan istirahat). Tetapi simptomatik sering diberikan dan mungkin tepat jika penyebabnya telah ditemukan dan batuk tidak produktif namun mengganggu pasien. Sebagian besar obat batuk dikelompokkan menjadi kategori antitusif dan ekspektoran. Anti Tusif 1. Agen antitusif kerja sentral menginhibisi refleks batuk dengan menekan pusat batuk madularis atau pusat yang lebih tinggi. Obat yang paling umum digunakan dalam kelompok ini adalah codeine dan dextromethorphan. Codeine : Codeine memiliki efek antitusif, analgesik, dan sedatif ringan dan terutama berguna untuk menghilangkan batuk dan nyeri. Obat ini juga menimbulkan aksi pengeringan mukosa saluran pernapasan yang mungkin berguna (misalnya, pada bronkorea) atau merugikan (misalnya, jika sekresi bronkial telah banyak). Antitusif kerja sentral lain termasuk chlophedianol, levopropoxyphene, dan methadone dan morphine dalam kelompok narkoba. 2. Antitusif kerja perifer mungkin beraksi pada sisi aferen atau aferen refleks batuk. Pada sisi aferan, antitusif mungkin menurunkan masukan stimuli dengan beraksi sebagai analgesik atau anestetik ringan pada mukosa pernapasan, dengan memodifikasi output dan viskositas cairan saluran pernapasan, dan dengan merelaksasi otot polos bronkus jika terdapat bronkospasme. Pada sisi eferen obat ini mungkin membuat sekresi menjadi lebih mudah dikeluarkan, jadi meningkatkan efisiensi mekanisme batuk. Obat kerja parifer dikelompokkan sebagai berikut :·
- Demulcents berguna melawan batuk yang timbul di atas laring. Obat biasanya digunakan sebagai sirup atau tablet isap (lozenges) dan termasuk acacia, licorice, glycerine, madu, dan sirup cherry liar.
- Anestetik lokal (misalnya, benzocaine, cyclaine, dan tetracaine) berguna untuk menginhibisi refleks batuk dalam situasi tertentu (misalnya, sebelum bronkoskopi atau bronkografi).
- Aerosol pelembab dan inhalasi uap menimbulkan efek antitusif dengan aksi demulsen dan menurunkan viskositas sekresi bronkial.
Ekspetoran Ekspektoran adalah obat yang ditujukan untuk membantu mengeluarkan sekresi bronkial dari saluran pernapasan dengan menurunkan viskositasnya. Hidrasi yang adekuat merupakan satu dilakukan untuk mendorong ekspektorasi. Iodida digunakan untuk mengencerkan sekresi bronkial yang kental (misalnya pada stdium lanjut bronkitis, bronkiektasis, dan asma). Larutan kalium iodida jenuh merupakan preparat paling murah dan paling banyak digunakan. Dosis awal adalah 0,5 mL per oral qid setelah makan dan sebelum tidur, dan ditingkatkan bertahap menjadi 1-4 mL qid. Biasanya diberikan bersama susu untuk menutupi rasanya yang tidak enak. Untuk efektif, iodida harus digunakan dalam dosis yang mendekati intoleransi. obat harus dihindari pada pasien yang sensitif terhadap iodida. Sirup ipecac 0,5 mL per oral qid (CATATAN : Dosis ini jauh lebih rendah dari dosis emetik). Obat ini berguna untuk menghilangkan spasme laring pada anak-anak dengan croup dan seringkali membersihkan mukus kental dan lengket dari bronkus. Guaifenesin (100-200 mg oeroral q 2-4 h) merupakan ekspektoran yang paling banyak digunakan dalam obat batuk bebas. Mukolitik (misalnya, acetylcysteine) berfungsi menurunkan viskositas mukus. Kegunaanya terbatas pada beberapa kasus khusus seperti sekresi yang kental, lengket, mukopurulen (misalnya pada bronkitis kronis dan fibrosis kistik). Acetylcysteine deberikan sebagai larutan 10-20% dengan nebulisasi atau instilasi. Pada sebagian pasien, obat ini dapat memperberat obstruksi saluran pernapasan. Jika hal ini terjadi, pemakaian mukolitik dapat didahului oleh inhalasi bronkodilator simpatomimetik nebulized atau pemakaian formulasi yang mengandung acetylcysteine (10%) dan isoproterenol (1,05%). Enzim proteolitik (misalnya, pancreatic dornase) berguna hanya jika sputum purulen merupakan masalah utama. Antihistamin tidak berperan besar dalam terapi batuk. Aksi pengeringan mukosa pernapasannya mungkin membantu pada fase kongestif diri coryza akut tetapi mungkin berbahaya, terutama pada pasien dengan batuk nonproduktif yang etrjadi akibat retensi sekresi kental. Dekongestan (misalnya, phenylepherine) Bronkodilator (misalnya, ephedrine dan theophylline) dapat digunakan jika batuk dipersulit oleh bronkospasme. Atropine tidak digunakan karena menyebabkan sekresi bronkial menjadi lebih kental.
|